Pandji Pragiwaksono Dijadwalkan ke Kantor MUI Pusat Sore Ini Terkait Polemik Mens Rea
Komika dan artis Pandji Pragiwaksono dijadwalkan memenuhi undangan bertemu pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat pada sore ini terkait kontroversi materi stand up comedy bertajuk Mens Rea. Pertemuan direncanakan sebagai bagian dari upaya dialog meredam polemik yang berkembang di masyarakat.
Kasus ini bermula dari sejumlah pihak yang merasa terganggu dengan Mens Rea, sebuah pertunjukan komedi yang juga tersedia di platform streaming sejak akhir Desember 2025. Materi itu dianggap oleh sebagian pihak sebagai kritik sosial dan humor tajam, sementara sebagian lainnya menilai ada unsur yang “melampaui batas” atau sensitif terhadap nilai agama dan sosial.
Baca Juga : List Drama Korea Terbaru Tayang Mulai Februari 2026
Beberapa kelompok masyarakat, seperti Angkatan Muda Nahdlatul Ulama (NU) dan Aliansi Muda Muhammadiyah, telah melaporkan Pandji ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghinaan atau penistaan terkait materi tersebut. Namun, pihak PP Muhammadiyah menyatakan bahwa pelaporan itu bukan merupakan sikap resmi seluruh organisasi tersebut.
Selain itu, bagian dari protes juga datang dari Front Persaudaraan Islam (FPI) yang sempat menuntut agar Pandji meminta maaf secara terbuka atas konten yang dianggap menyinggung. Pandji menanggapi tuntutan tersebut dengan mengatakan bahwa dialog terbuka lebih efektif untuk mengklarifikasi maksud materi dan konteksnya.
Pandji sendiri telah beberapa kali memberikan respons atas kontroversi ini. Ia menegaskan bahwa Mens Rea adalah bentuk komedi dan kritik sosial, bukan niat menghina atau merendahkan agama. Ia juga menyatakan bahwa respons atas karya seni adalah hal yang wajar dalam ruang publik.
Pihak kepolisian menyatakan proses penanganan laporan ini tetap berjalan secara profesional guna menilai unsur hukum dalam materi tersebut. Penanganan hukum sedang berlangsung di Polda Metro Jaya dengan melibatkan klarifikasi saksi dan analisis alat bukti.
Pertemuan Pandji dengan MUI diharapkan menjadi bagian dari jalan tengah dialog sosial, di mana tokoh agama dan pelaku seni dapat berdiskusi secara langsung untuk menciptakan kesepahaman bersama. Belum ada pernyataan resmi dari pihak MUI tentang hasil pertemuan hingga berita ini ditulis.
Kasus ini tetap menjadi sorotan karena menyentuh isu penting tentang kebebasan berekspresi dalam seni versus sensitivitas sosial dan keagamaan di Indonesia saat ini.